
Oleh : Raudatul Jannah (Mahasiswi Antropologi Sosial, Unkhair Ternate)
Sail Tidore 2022 bukan sekadar perhelatan seremonial atau festival maritim biasa. Lebih dari itu, ia merupakan contoh nyata bagaimana diplomasi kebudayaan dapat dijalankan secara strategis, berdampak langsung pada masyarakat, serta mampu menjadi instrumen pemulihan ekonomi yang efektif pasca pandemi COVID-19. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi oleh daerah-daerah di Indonesia akibat krisis kesehatan global, Tidore menunjukkan arah yang progresif dengan memanfaatkan kekuatan lokal: budaya, sejarah, dan rempah-rempah.
Dengan tema “Tidore: Kota Warisan Dunia, Perekat Bangsa-Bangsa,” Sail Tidore di tahun 2022 hadir sebagai ruang diplomasi terbuka yang tidak hanya menyambungkan bangsa-bangsa melalui pertukaran budaya, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai lokal yang memiliki daya jual tinggi. Warisan jalur rempah-rempah yang pernah membuat Tidore dikenal dunia, kini dihidupkan kembali dengan pendekatan kontemporer: melalui pariwisata dan pemberdayaan UMKM berbasis rempah.
Di sinilah diplomasi kebudayaan menemukan bentuk paling konkret. Ia tidak sekadar berlangsung dalam forum-forum resmi antar negara, tetapi tumbuh dari partisipasi masyarakat lokal yang ikut serta dalam pelestarian warisan, pengembangan ekonomi kreatif, hingga penyambutan tamu-tamu internasional. Pemerintah daerah dan pusat pun menunjukkan sinergi yang kuat dalam pelaksanaan kegiatan ini, menciptakan model kolaborasi pembangunan berbasis budaya yang bisa direplikasi di daerah lain.
Penting pula dicatat bahwa Sail Tidore 2022 tidak hanya mengandalkan kekuatan budaya sebagai hiburan, namun mengarahkannya sebagai alat pemberdayaan ekonomi. Produk UMKM rempah-rempah, sebagai bagian dari identitas Tidore, berhasil dipromosikan dalam skala global. Ini membuka akses pasar baru, mempertemukan pelaku usaha kecil dengan investor dan pembeli internasional, serta memberikan harapan baru bagi masyarakat lokal yang sempat terpuruk akibat pandemi.
Tak hanya itu, melalui berbagai kegiatan seperti pentas seni, kompetisi foto bawah laut, serta promosi kekayaan alam dan laut Tidore, acara ini berhasil menarik perhatian wisatawan dan dunia internasional. Kegiatan-kegiatan ini bukan hanya mendatangkan kunjungan jangka pendek, tetapi juga memperkuat positioning Tidore sebagai destinasi budaya yang unik dan bersejarah. Duta besar dan delegasi asing yang hadir turut memperluas jejaring diplomatik Indonesia, terutama dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Secara tidak langsung, Sail Tidore memperlihatkan bahwa budaya bukan hanya soal menjaga masa lalu, tetapi juga membuka masa depan. Ia dapat menjadi fondasi pembangunan yang tidak merusak identitas lokal, bahkan justru menguatkannya. Ini sangat penting di era globalisasi yang kerap menyamaratakan nilai-nilai, dan bisa menjadi strategi jitu bagi Indonesia dalam memperkuat diplomasi lunak (soft power).
Sail Tidore 2022 telah memberi pelajaran penting bahwa pemulihan pasca pandemi tidak harus bertumpu pada pendekatan yang kaku dan struktural semata. Sebaliknya, pendekatan berbasis budaya dan partisipasi masyarakat justru menciptakan dampak yang lebih organik, lebih menyatu dengan identitas lokal, serta lebih berkelanjutan. Ketika masyarakat merasa menjadi bagian dari proses, maka keberhasilan suatu program bukan hanya milik pemerintah, melainkan kebanggaan bersama.
Dengan demikian, Sail Tidore telah menjadi simbol dari bagaimana diplomasi kebudayaan bisa berjalan dari akar, berdampak pada ekonomi, mempererat hubungan antardaerah dan antarbangsa, serta mengukuhkan kembali posisi Indonesia sebagai bangsa besar yang kaya akan budaya dan sejarah.

Tinggalkan Balasan