Kepala Dinas Kesehatan Halmahera Barat

JAILOLO – Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, mencatat bahwa kasus Tuberkulosis (TB) dan HIV/AIDS masih menjadi tantangan serius di tengah upaya pemerintah daerah menekan angka stunting.

Sepanjang Januari hingga Desember 2025, tercatat 293 kasus Tuberkulosis (TB) yang ditangani di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Halmahera Barat. Dari jumlah tersebut, sekitar 62 persen penderita merupakan laki-laki usia produktif.

Kepala Dinas Kesehatan Halmahera Barat, Novelheins Salakaty, mengatakan bahwa penanganan TB masih menghadapi berbagai kendala, terutama dalam deteksi dini dan kepatuhan pasien menjalani pengobatan secara tuntas.

“TB masih menjadi penyakit menular yang perlu pengawasan ketat. Kepatuhan minum obat dan dukungan keluarga sangat menentukan keberhasilan pengobatan,” kata Novelheins, Jumat (23/1/2026).

Selain TB, kasus HIV/AIDS juga menunjukkan perkembangan yang perlu diwaspadai. Sepanjang 2025, Dinas Kesehatan mencatat 69 kasus HIV/AIDS, terdiri dari 35 laki-laki dan 34 perempuan.

Novelheins menyoroti meningkatnya kasus pada kelompok perempuan, khususnya ibu rumah tangga, yang mengindikasikan potensi penularan dari pasangan. Kondisi ini dinilai memerlukan penguatan edukasi kesehatan reproduksi serta perluasan layanan pemeriksaan HIV secara sukarela dan rahasia.

Di sisi lain, Dinas Kesehatan Halmahera Barat saat ini membawahi 21 fasilitas pelayanan kesehatan aktif, meliputi RSUD Jailolo, 15 puskesmas, tiga klinik pratama, satu Instalasi Farmasi Kabupaten, serta Dinas Kesehatan sebagai pusat koordinasi. Total terdapat 1.079 tenaga kesehatan yang bertugas di seluruh wilayah kabupaten.

Sementara itu, berdasarkan data penyusunan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Pemerintah Daerah 2024, angka stunting di Halmahera Barat tercatat 12,4 persen, atau sebanyak 756 dari 6.094 balita yang diukur. Angka ini menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Novelheins, momentum Hari Gizi Nasional yang diperingati pada 25 Januari 2026 menjadi kesempatan untuk memperkuat layanan kesehatan berbasis komunitas, tidak hanya dalam penanganan stunting, tetapi juga pengendalian penyakit menular seperti TB dan HIV/AIDS.

“Pendekatan promotif dan preventif harus terus diperkuat agar kualitas kesehatan masyarakat Halmahera Barat dapat meningkat secara berkelanjutan,” ujarnya.(cul)