
SOFIFI — Teriakan “DOB Sofifi harga mati!” kembali menggema di jalan-jalan utama Sofifi, Selasa, (22/7/2025).
Ratusan orang yang tergabung dalam kelompok Markas turun ke jalan, menuntut pemekaran Kota Sofifi sebagai Daerah Otonom Baru (DOB).
Aksi berlangsung sejak pukul 10.30 hingga 14.00 WIT, dimulai dari Bundaran Kilometer 40 hingga berakhir di depan Kantor DPRD Maluku Utara.
Dipimpin koordinator lapangan Ibrahim Asnawi, massa mengawali aksinya dengan konvoi. Sekitar pukul 11.30, rombongan tiba di Kantor Gubernur Maluku Utara dan menggelar orasi.
“Pemerintah Kota Tidore enggan melepas Sofifi, tapi tak juga membangun secara adil,” kata seorang orator.
Sekitar satu jam kemudian, massa bergeser ke Kantor DPRD Provinsi. Di sana, mereka kembali menyuarakan kekecewaan atas ketimpangan pembangunan. Layanan kesehatan dan infrastruktur, menurut mereka, lebih banyak tersedot ke wilayah Tidore ketimbang daratan Oba. “Pembangunan tak adil, pelayanan timpang,” teriak yang lain.
Massa juga menuding elite lokal mempermainkan isu DOB Sofifi saat masa kampanye saat Pilkada,” Begitu terpilih, janji pemekaran dilupakan,” kata Ibrahim.
Menurut mereka, pemekaran Sofifi bukan soal politik identitas atau separatisme, melainkan tuntutan atas hak administratif dan pelayanan publik yang layak.
Massa kemudian di terima oleh Kepala Biro Pemerintahan Setda Maluku Utara, Ali Fataruba, yang mewakili pemerintah provinsi.
Ali menyebut Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda sedang berada di Halmahera Tengah,” Aspirasi ini akan kami teruskan ke gubernur dan diupayakan ke pemerintah pusat,” ujarnya.
Pernyataan senada disampaikan Sekretaris DPRD Maluku Utara, Kisman. Ia berjanji menyampaikan tuntutan massa ke pimpinan dewan.
Namun soal sikap politik lembaga terhadap DOB Sofifi, Kisman mengatakan masih akan dikaji.(nox)

Tinggalkan Balasan