Nurlaela Syarif, Anggota DPRD Kota Ternate Menyambangi Warga Yang Sakit

TERNATE – Di balik gemerlap pembangunan kota, suara-suara rakyat kecil sering kali terpinggirkan. Di Kota Ternate, Maluku Utara, suara itu kini mulai menggema lewat satu nama: Nurlaela Syarif.

Sebagai anggota DPRD Kota Ternate, Nurlaela bukanlah sosok baru. Ia telah lama dikenal sebagai figur vokal dan kritis terhadap kebijakan pemerintah daerah, terlebih ketika kebijakan itu dinilai jauh dari kebutuhan dasar masyarakat.

Dalam beberapa bulan terakhir, Nurlaela kerap turun langsung ke tengah-tengah warga. Dari gang sempit di Ternate Utara hingga kawasan padat di Ternate Selatan, satu hal yang ia temukan konsisten: rakyat banyak mengeluh, tapi sedikit yang didengar.

Dari berbagai keluhan yang disampaikan warga, masalah air bersih menempati posisi teratas. Di sejumlah kelurahan, warga harus membeli air dari tangki swasta karena pasokan dari PDAM tidak lancar, bahkan tak mengalir selama berminggu-minggu,” Air hanya hidup tengah malam, itu pun kecil. Kami bangun jam dua pagi hanya untuk menampung air,” ujar salah satu warga.

Masalah lain yang tak kalah serius adalah sampah dan infrastruktur jalan. Banyak titik di kota ini yang dikeluhkan karena buruknya pengelolaan sampah. Bau menyengat, saluran mampet, dan tumpukan sampah liar menjadi pemandangan harian yang dikeluhkan warga. Di beberapa lokasi, jalan rusak dibiarkan bertahun-tahun tanpa perbaikan berarti.

Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Nurlaela menegaskan bahwa tugas anggota dewan bukan hanya hadir saat masa kampanye,” Saya datang bukan untuk janji-janji politik. Saya ingin mendengar langsung dan membawa suara rakyat ke dalam forum-forum resmi, ke rapat-rapat anggaran dan ke kebijakan nyata,” katanya dalam sebuah pertemuan warga.

Nurlaela juga menyoroti lemahnya pengawasan dan perencanaan anggaran di sektor pelayanan publik. Ia mendorong agar program-program prioritas benar-benar berdasarkan kebutuhan warga, bukan sekadar proyek tahunan yang tidak menyentuh akar persoalan.

Ternate memang bukan kota besar, tetapi harapan rakyatnya sama besarnya dengan kota-kota lain. Mereka menginginkan air bersih, jalan yang layak, sistem pelayanan publik yang cepat dan bersih. Nurlaela Syarif mencoba hadir sebagai jembatan antara keluhan itu dan kebijakan publik.

Namun, tantangan yang dihadapinya tidak ringan. Politik anggaran yang kerap lebih berpihak pada proyek fisik bernilai besar, belum tentu memperhatikan keluhan sehari-hari masyarakat. Dalam sistem yang kerap mengabaikan suara bawah, perjuangan seperti yang dilakukan Nurlaela memerlukan konsistensi dan keberanian.

Nurlaela Syarif mungkin bukan pejabat eksekutif, tapi ia menjadi corong dari keluh kesah rakyat yang selama ini terabaikan. Dalam politik yang sering kali penuh basa-basi, suara tulus seperti inilah yang dibutuhkan: suara yang tak hanya hadir saat pemilu, tapi terus mengakar dalam kehidupan rakyat sehari-hari.(ys)